Kamis, 09 Desember 2010

Dalam dosis ringan, gas beracun berguna dalam pengobatan

Dalam dosis ringan, gas beracun berguna dalam pengobatan
Yuwanda Fauzi/Fotokita.net
 
Nitrik oksida, karbon monoksida, dan hidrogen sulfida--ketiganya gas beracun--sedang diteliti kegunaannya dalam penanganan berbagai penyakit.

Ketiga gas beracun itu bisa dihasilkan oleh pabrik serta kendaraan bermotor. Akan tetapi, Dr. Mark Gladwin, seorang spesialis paru-paru dan peneliti dari University of Pittsburg Medical Center, mengatakan kalau penelitian terhadap ketiga gas tersebut sudah lama dilakukan. Para peneliti berusaha mencari kegunaan ketiganya dalam terapi.

Gladwin menjelaskan kalau ketiga gas beracun tersebut juga menjadi bahan kimia penting bagi tubuh, "ketika berada dalam dosis rendah," katanya. Ketiganya termasuk gaseotransmitter yang menurunkan tekanan darah, mencegah peradangan, serta mengatur penggunaan oksigen.

Cara kerja nitrik oksida, karbon monoksida, dan hidrogen sulfida dalam tubuh mirip dengan hormon. Setelah mereka masuk ke dalam sel, mereka mengaktifkan protein. Protein yang diaktifkan mengaktifkan dan menonaktifkan protein lain. Informasi yang dibawa diteruskan dari protein ke protein lain seperti efek domino. Hasilnya bisa berbentuk energi dari sebuah sel atau aktifnya sebuah gen. Gaseotransmitter juga berfungsi untuk membuka membran sel sehingga molekul pembawa energi bisa masuk dan mengubah metabolisme sel.

Nitrik oksida, karbon monoksida, dan hidrogen sulfida memiliki fungsi yang serupa. Demikian dijelaskan oleh David Lefer, ahli fisiologi kardiovaskular dari Emory University School of Medicine di Atlanta, Amerika  Serikat. "Nitrik oksida-lah gaseotransmitter utama. Kedua gas lain merupakan cadangan," jelasnya.

Nitrik oksida bisa memperlebar pembuluh darah sehingga tekanan darah menurun. Sejak tahun 1999, dokter menggunakan gas ini untuk menolong bayi yang lahir dengan tekanan darah yang tinggi di paru-paru. Saat ini para peneliti tengah mencari kemungkinan penggunaan nitrik oksida untuk terapi bagi penderita anemia sel sabit (sickle cell anemia), gagal jantung, serta pengobatan untuk luka luar.

Karbon dioksida sering digunakan dalam organ donor, seperti donor ginjal. Sistem kekebalan tubuh sering menyerang organ tubuh baru, termasuk ginjal. Akibatnya, terjadi peradangan. Karbon dioksida sering digunakan untuk mencegah peradangan.

Hidrogen sulfida termasuk gas baru dalam gaseotransmitter. Dalam percobaan dengan hewan kecil seperti cacing dan tikus. Tapi percobaan belum berhasil pada hewan yang lebih besar. Ini yang membuat Lefer kurang yakin kalau hidrogen sulfida bisa bekerja pada manusia.

Hidrogen sulfida memperlambat produksi energi pada sel. Dengan metabolisme yang sangat rendah, mendekati hibernasi, organ bisa bertahan lama dengan jumlah oksigen yang sangat sedikit. Lefer berharap hidrogen sulfida dapat dipakai untuk para korban gagal jantung sehingga organ tubuh lain bisa bertahan lebih lama meskipun suplai oksigennya terhambat.

Karena tingkat racun pada gaseotransmitter sangat tinggi, para ilmuwan sangat berhati-hati pada saat penelitian. Mereka lebih berharap bakal ditemukannya obat yang memiliki fungsi serupa namun tidak berbahaya dan lebih nyaman pada pasien. Para ilmuwan juga khawatir dengan efek samping yang mungkin dihasilkan.

Akan tetapi, Gladwin menjelaskan, beberapa efek samping mungkin menguntungkan. Ia mengambil contoh kasus: viagra merupakan sebuah obat yang memanfaatkan efek samping obat penambah tekanan darah.

Sumber: LA Times

Dokter rekam proses kelahiran di dalam rahim

Dokter rekam proses kelahiran di dalam rahim
Charité Hospital
 
Dokter rumah sakit di Berlin berhasil merekam proses kelahiran menggunakan mesin pencitraan resonansi magnetik (MRI). Gambar-gambar itu dihasilkan setelah seorang calon ibu setuju untuk melahirkan dalam mesin MRI.

Calon ibu yang jadi relawan itu berhasil melahirkan dengan lancar. Mesin MRI merekam semua gerakan berikut proses yang terjadi di dalam rahim. "Sekarang kita bisa melihat secara detail. Sungguh luar biasa. Sebuah bukti lagi kalau kelahiran adalah keajaiban," kata Ernst Beinder, dokter spesialis kandungan di Charite Hospital, Berlin.

Rekaman ini bertujuan untuk mengetahui proses kelahiran secara detail sehingga suatu saat nanti dapat digunakan untuk membantu kelahiran yang sulit, termasuk 15 persen wanita yang harus melahirkan lewat operasi Caesar karena bayi tidak bergerak ke jalur yang benar.

Mesin MRI yang digunakan didesain khusus untuk kelahiran ini. Mesin MRI yang biasanya berbentuk tabung dimodifikasi sehingga memiliki ruang untuk proses kelahiran.

Sumber: Mail Online

Senin, 06 Desember 2010

5 Mitos Vaksin yang Menyesatkan


shutterstock
Meski sudah diperkenalkan sejak awal abad 20, hingga saat ini cakupan vaksinasi di berbagai tempat belum mencapai 100 persen. Malah, jumlah anak yang mendapat vaksin menurun. Di Indonesia sendiri cakupan imunisasi baru sekitar 60 persen.

Padahal, vaksinasi sudah terbukti menjadi cara yang murah dan efektif untuk mencegah angka kesakitan dan kematian pada anak-anak akibat penyakit infeksi.

Berikut adalah lima mitos menyesatkan seputar vaksin dan fakta di balik mitos itu.

1. Vaksin tidak penting
Sampai saat ini penyakit yang berhasil dieradikasi (hilang) barulah cacar bopeng (small pox). Penyakit lain, meski vaksinnya sudah ditemukan puluhan tahun lalu, masih ada. Misalnya saja polio, cacar air atau batuk rejan.

2. Anak-anak mendapat terlalu banyak vaksin dan terlalu dini
Vaksin adalah cara paling efektif untuk mencegah infeksi penyakit yang dihadapi anak-anak dari lingkungan setiap hari.

"Tubuh anak terus menerus menghadapi banyak hal yang membuat sistem imun mereka bekerja keras, mulai dari bakteri di tubuh kita sendiri juga bakteri yang berasal dari makanan, minuman dan udara," kata Paul Offit, direktur Vaccine Education Center dari RS Anak Philadelphia.

Pakar imunologi dari University of California, AS, meneliti jumlah vaksin yang bisa direspon oleh tubuh seseorang pada satu waktu. Setelah mempertimbangkan berbagai jenis komponen dalam vaksin, termasuk protein bakteri, mereka menemukan bahwa bayi dan anak-anak bisa merespon dengan aman 100.000 vaksin dalam sekali waktu. Padahal rata-rata seorang anak mendapatkan 14 jenis vaksin dalam waktu dua tahun.

3. Vaksin MMR sebabkan autisme
Mitos ini mulai berkembang tahun 1998 ketika Dr.Andrew Wakefield dan timnya mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal The Lancet. Mereka mengamati kesehatan 12 anak, yang 8 diantaranya mengalami gangguan perkembangan yang menurut orangtua anak-anak itu disebabkan oleh vaksin MMR. Hasil studi itu menimbulkan kepanikan di seluruh dunia dan menyebabkan jumlah anak yang mendapatkan imunisasi turun drastis.

Padahal awal tahun ini para editor dari The Lancet secara resmi menyatakan menarik penelitian itu karena menyebarkan informasi keliru. Setelah penelitian yang mendalam, para ahli termasuk dokter di WHO menyatakan vaksin MMR tidak terkait dengan peningkatan kasus autisme di dunia.

Berbagai penelitian telah dilakukan dan tidak ditemukan kaitan antara vaksin MMR dengan autisme. Salah satu studi terbesar dan jangka panjang dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine di tahun 2002. Studi itu mengamati kesehatan 537.000 anak dan menemukan angka autisme antara anak yang mendapat vaksin dan tidak ternyata sama saja.

4. Vaksin tidak 100 persen aman
Mitos ini mungkin ada benarnya. Namun, berjalan kaki pun tidak menjamin kita aman 100 persen bukan? Kita bisa saja terjatuh atau tersenggol motor. Nyatanya hal itu tidak membuat orang jadi takut untuk berjalan kaki di pinggir jalan.

Kebanyakan vaksin yang diberikan lewat injeksi memang bisa menyebabkan nyeri, merah dan bengkak pada kulit di bagian yang disuntik. Efek samping lainnya adalah demam dan reaksi alergi. Kendati begitu, sifat efek samping itu individual. Lagipula risikonya lebih besar jika anak tidak diimunisasi. Teknologi vaksin pun semakin canggih sehingga reaksi terhadap vaksin jauh lebih jarang dan ringan.

5. Vaksin tidak efektif cegah penyakit
Kebanyakan vaksin yang sekarang ini beredar sudah ada dalam kurun waktu 50 tahun, sehingga kebanyakan orangtua tidak mengenal jenis-jenis penyakit yang bisa dicegah oleh imunisasi.

Misalnya saja, sebelum vaksin tersedia tahun 1963, hampir seluruh anak di AS terkena cacar air sebelum usia 15 tahun. Di negara itu, penyakit ini tiap tahun membunuh 450 orang, kebanyakan anak-anak. Namun setelah vaksin diperkenalkan, kasus cacar air menurun menjadi hanya 37 di tahun 2004.

Sayangnya, sejak tahun 2006, jumlah anak yang terkena cacar air meningkat menjadi 130. Menurut data CDC, kebanyakan anak tersebut tidak divaksin atas permintaan orangtua pasien sendiri.

Tren yang sama juga terjadi di Inggris dimana jumlah penderita cacar air naik dari 56 kasus di tahun 1998 menjadi 1324 kasus di tahun 2008. Penyebabnya juga karena orangtua tak mau memvaksin anaknya.
Penulis: AN   |   Editor: Asep Candra   |   Sumber : LiveScience 

Langsing dengan Dedaunan

Shutterstock
Teh herbal memiliki khasiat masing-masing. Nikmat, plus bermanfaat.
Sudah gonta-ganti metode pelangsingan, tapi tak kunjung kelihatan hasilnya? Coba resep-resep turun-temurun yang digunakan para putri keraton ini. Lebih alami, sehat, dan aman, lho.

1. Daun jati belanda
Umumnya jamu galian singset yang telah dikenal di Indonesia mengandung unsur daun ini. Menurut para ahli, daunnya mengandung alkaloids, damar, dan zat samak. Nah, bagian dari daun jati belanda inilah yang banyak dipakai untuk mengurangi pembentukan lemak, menguruskan, dan merampingkan tubuh.
Resep: Ambil dua pucuk lembar daunnya, cuci bersih dan dipotong-potong kecil. Lalu direbus dengan air bersih sebanyak 3 gelas air. Setelah dingin, air tersebut disaring lalu diminum 2-3 kali sehari. Agar rasanya lebih enak, boleh ditambah dengan gula secukupnya.

2. Daun salam
Selain untuk memasak, daun salam mengandung flavonoid dan tanin yang dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, antara lain kolesterol tinggi, asam urat tinggi, kencing manis, tekanan darah tinggi, maag, dan diare.
Resep: Pilih 5 atau 7 helai daun salam yang masih segar. Setelah dicuci bersih, masak dengan air secukupnya sampai mendidih. Kemudian disaring, setelah dingin, minum sebelum makan siang dan makan malam.

3. Daun kemuning
Khasiat kemuning sebagai obat untuk mengatasi masalah haid yang tidak teratur. Di samping itu, daunnya berguna mengatasi masalah kelebihan lemak pada tubuh.
Resep: Ambil segenggam penuh daun kemuning ditambahkan segenggam penuh daun mengkudu (Morido citrifolia) dan setengah jari kelingking temugiring (Curcuma heyneano). Semua bahan ditumbuk sampai halus, sambil ditambahkan satu cangkir air, lalu peras, dan diminum pagi hari sebelum sarapan.

4. Teh hijau
Daun teh hijau yang dipakai sebagai bahan minuman juga sudah lama dikenal sebagai salah satu pembakar lemak dalam pengobatan tradisional. Teh hijau mengandung antioksidan yang sangat tinggi sehingga membantu meningkatkan pembakaran lemak dalam tubuh.
Resep: Seduh teh hijau dengan air panas, dinginkan, dan minum. Sebaiknya diminum sebelum menyantap makanan. Teh hijau akan membantu menahan asupan lemak. Atau, bisa juga minum teh hijau sebelum Anda latihan olahraga, ini pun membantu membongkar lemak di bawah kulit lebih cepat.

(Aryani Indrastati/Majalah Chic)

Pelangsing, yang Tradisional Lebih Aman?

shutterstock

Lemak, terutama jika sampai tertimbun di tubuh kini menjadi musuh banyak orang. Karena itu segala usaha untuk menyingkirkannya populer dipilih orang, baik pria maupun wanita.

Mereka yang ingin menurunkan berat badan namun tak mau repot-repot berolahraga dan mengatur pola makannya, biasanya memilih produk obat-obatan, jamu, suplemen, atau minuman pelangsing.

Kebanyakan produk-produk tersebut belum teruji secara klinis. Karena itu dr.Johanes Tjandrawinata, Sp.GK, ahli gizi klinik dari Melinda Hospital Bandung, menyarankan agar konsumen lebih berhati-hati dalam memilih produk pelangsing.

"Jamu atau obat-obatan tradisional biasanya punya efek meningkatkan frekuensi buang air kecil dan buang air besar. Karenanya berat badan akan cepat turun," katanya dalam sebuah acara media edukasi mengenai keamanan obat anti obesitas di Jakarta, (1/12).

Jamu yang kerap digunakan untuk melangsingkan tubuh biasanya dibuat dari tanaman jati belanda, kemuning atau kunyit. Masyarakat banyak yang memilih jamu karena terbuat dari bahan alami sehingga aman dikonsumsi.

Selain jamu, produk lain yang memiliki cara kerja mirip dengan jamu pelangsing adalah minuman teh hijau. Mengenai minuman ini, dr.Johanes berpendapat sebenarnya semua jenis teh memang bisa mengurangi lemak tubuh.

"Penelitian di Jepang menunjukkan teh mengandung ECGC, sejenis antioksidan yang bisa meningkatkan metabolisme dan menghambat pembentukan sel-sel lemak. Karena itu semua jenis teh pada dasarnya bisa mengurangi berat badan, asal dikonsumsi tanpa gula," katanya.

Meski kebanyakan orang berpendapat jamu dan obat tradisional memiliki efek samping lebih sedikit daripada obat kimia, namun dr.Johanes mengatakan dalam jangka panjang, obat tradisional juga bisa menimbulkan efek samping.

"Produk yang cara kerjanya mengeluarkan cairan bisa mengganggu ginjal dan menghambat peredaran darah," katanya. Karena itu ia menyarankan agar pengguna jamu-jamuan mengenal terlebih dahulu bahan yang digunakan dengan jelas dan secara rutin melakukan cek ginjal.
Yang perlu dipahami, menurut dia, bahwa upaya penurunan berat badan bukanlah proses yang singkat namun bersifat jangka panjang. "Tidak bisa instan. Bukankah kegemukan juga hasil dari proses yang lama?," katanya. Usaha penurunan berat badan haruslah bersifat holistik, mulai dari pengaturan pola makan, olahraga, perubahan perilaku, dan obat-obatan, jika diperlukan.

Tombol Lift Lebih Kotor dari Toilet

shutterstock
Bagi Anda yang bekerja atau tinggal di gedung bertingkat, lift merupakan sarana pendukung aktivitas. Namun ingatlah, selalu segera mencuci tangan seusai memencet tombol lift. Pasalnya, tombol-tombol di lift mengandung kuman dan bakteri 40 kali lebih banyak dari tempat duduk toilet umum.

Peringatan tersebut tidak main-main karena para peneliti telah melakukan uji sampel kuman pada lift yang ada di beberapa fasilitas publik, seperti hotel, restoran, bank, perkantoran, dan bandara. Hasilnya, ditemukan 313 koloni unit bakteri menempel pada tiap sentimeter persegi tombol lift. Bandingkan dengan dudukan toilet yang hanya delapan unit koloni.

Hal lain yang perlu diwaspadai adalah bakteri itu bisa menyebabkan sakit perut dan diare. Bakteri Escherichia coli (E coli) merupakan salah satu jenis bakteri yang lazim ditemukan di tombol lift. Bakteri ini biasanya hidup di usus manusia dan keluar lewat tinja.

Ia menambahkan, meski tombol lift dibersihkan secara teratur, potensi terbentuknya koloni bakteri di sana tetaplah tinggi. "Di gedung bertingkat, bayangkan ada berapa orang yang menyentuh tombol lift setiap jamnya?" kata dr Nicholas Moon dari Mircoban Europe, pihak yang melakukan penelitian ini.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa meja kerja termasuk area berkumpulnya kuman. Papan ketik di komputer, misalnya, mengandung kuman dan bakteri empat kali lebih banyak daripada di toilet.

Karena itu, para ahli mengingatkan pentingnya mencuci tangan sebelum makan atau memproses makanan.
Penulis: AN   |   Editor: Lusia Kus Anna   |   Sumber :daily mai

Tempat Tak Terduga Favorit Bakteri



KOMPAS.com Karena ukurannya yang renik, kuman dan bakteri tidak bisa kita lihat, sentuh, atau cium baunya. Namun, sebersih apa pun suatu benda terlihat, bisa dipastikan bahwa benda itu dipenuhi bakteri, termasuk di permukaan kulit kita. Faktanya, bakteri memang ada di mana-mana. Cermati tempat-tempat tak terduga berikut, tempat favorit bakteri bersarang.

Menu restoran
Mungkin Anda mengira tangan Anda cukup bersih sebelum duduk di meja restoran. Namun, apakah tangan Anda sudah dicuci saat makanan terhidang di meja Anda? Penting diketahui bahwa menu restoran banyak mengandung kuman karena banyaknya tangan yang sudah menyentuhnya.

Tas kosmetik
Bila Anda bukan orang yang gemar berbagi kosmetik dengan orang lain, maka jumlah bakteri yang menghuni tempat kosmetik Anda akan minimal. Lain halnya jika Anda sering tukar-menukar alat kosmetik dengan orang lain. Itu sebabnya, biasakan mencuci tangan sebelum mengaplikasi kosmetik ke wajah Anda.

Mainan anak
Bila balita Anda suka memasukkan mainan ke dalam mulutnya, rajin-rajinlah menjaga kebersihannya. Mainan anak tidak bebas dari kotoran dan debu karena itu harus dicuci secara berkala. Untuk mainan berbulu lembut seperti boneka, Anda bisa membawanya ke binatu.

Majalah di ruang tunggu dokter
Selain karena disentuh oleh banyak pasien, majalah di ruang tunggu dokter pada umumnya juga lembab sehingga bakteri senang tumbuh di sana. Penelitian menunjukkan, virus flu bisa bertahan selama dua minggu di sana.

Kantong belanja
Gaya hidup "hijau" bisa membuat Anda sakit jika Anda tidak rajin mencuci dan mengeringkan kantong belanja daur ulang yang rutin dibawa belanja. Separuh dari kantong belanja yang diuji oleh tim dari University of Arizona terdapat mikroba berbahaya, termasuk E.coli.

Talenan dan pisau
Gunakan selalu talenan dan pisau yang berbeda untuk bahan mentah dan masakan matang. Talenan dan pisau yang biasa dipakai untuk memotong bahan mentah, seperti daging atau sayuran, bisa menjadi sarana penularan bakteri.